Hari Kedua Konreg BPIW Tekankan Pentingnya Sinergi Lintas Sektor dan Daerah
Desk Konsultasi Regional (Konreg) yang merupakan bagian dari Proses perencanaan dan pemrograman
infrastruktur bidang pekerjaan umum TA 2027 memasuki hari kedua tanggal 14 April 2026. Pada hari
kedua ini, BPIW, Kementerian PPN/Bappenas, Kemenko IPK, dan jajaran Pemerintah Daerah kembali
melanjutkan pembahasan program pada 10 provinsi yang terbagi dalam 5 desk.
Kepala BPIW, Bob Arthur Lombogia, yang hadir dalam desk hari ini memberikan arahan untuk menyatukan
persepsi dalam pembahasan infrastruktur melalui forum konreg ini. Ia menyampaikan bahwa Konreg
dimaksudkan untuk mengintegrasikan program infrastruktur dasar Kementerian PU yang nantinya akan
saling menunjang, baik antar infrastruktur PU maupun infrastruktur lain di luar kewenangan
Kementerian PU, misalnya infrastruktur pelabuhan yang perlu didukung oleh akses jalan.
“Forum ini bukan hanya mengusulkan paket per paket, tapi kita berupaya mengintegrasikan program agar
saling menunjang. Tujuan kita membangun suatu wilayah adalah agar terjadi pertumbuhan ekonomi.
Dengan pembangunan terintegrasi dan terpadu, maka sektor riil di sekitarnya dapat tumbuh dan
menyebabkan terjadinya peningkatan pendapatan kemudian meningkatkan PDRB yang berdampak pada
pertumbuhan ekonomi” jelasnya.
Desk 1 yang dipimpin oleh Hasna Widiastuti, Kepala Bidang Pengembangan Infrastruktur Wilayah IA
membahas indikasi kebutuhan infrastruktur di 2 provinsi yaitu Sumatera Utara dan Riau. Beberapa
program yang menjadi sorotan antara lain lanjutan pembangunan beberapa ruas jalan bebas hambatan
lintas Sumatera, infrastruktur persampahan, penataan kawasan pariwisata, infrastruktur air minum,
dan irigasi.
Desk 2 yang dipimpin oleh Setyo Purnomo, Kepala Bidang Pengembangan Infrastruktur Wilayah IA
membahas indikasi kebutuhan infrastruktur di Provinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Pembahasan
antara lain meliputi rencana pembangunan beberapa ruas jalan, infrastruktur air baku, Sistem
Penyediaan Air Minum (SPAM), penataan kawasan perkotaan, pembangunan kampus dan program National
Urban Flood Resilience Project (NUFRep). Catatan untuk beberapa program adalah perlunya
memperhatikan kesiapan Readiness Criteria (RC) termasuk kesiapan lahan yang perlu komitmen dukungan
dari Pemerintah Daerah.
Desk 3 membahas pemrograman di Provinsi Banten yang dipimpin oleh Bernardi Haryawan, Kepala Bidang
Pengembangan Infrastruktur Wilayah IIA, dan Provinsi Jawa timur yang dipimpin oleh Erwin Adhi
Setyadhi, Kepala Bidang Pengembangan Infrastruktur Wilayah IIB. Pembahasan di antaranya terkait
preservasi beberapa ruas jalan, penyiapan desain pembangunan jalan, pembangunan infrastruktur
pengendali banjir, dan SPAM Regional. Beberapa program dapat diakomodir jika telah memenuhi kriteria
yang telah ditentukan, namun terdapat pula program yang ditangguhkan karena belum lengkapnya
Readiness Criteria sebagai syarat utama dalam pembangunan infrastruktur.
Desk 4 dipimpin oleh Andie Pramudita Saidhidayat, Kepala Bidang Pengembangan Infrastruktur Wilayah
III C. Sementara desk 5 dipimpin oleh Zaldy Sastra, Kepala Bidang Pengembangan Infrastruktur Wilayah
IC membahas Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Beberapa infrastruktur dasar yang
dibahas dalam desk seperti pengaman pantai, infrastruktur air baku, pembangunan jalan, dan Sekolah
Rakyat juga turut menjadi topik utama dalam pembahasan. (MBA/Tiara)