Talk Series ke-3 BPIW Virtual Expo Tampilkan Peran Nyata Generasi Muda
Layanan Informasi BPIW     |     24 Nov 2020     |     04:11     |     89
Talk Series ke-3 BPIW Virtual Expo Tampilkan Peran Nyata Generasi Muda
Foto Talk Series ke-3 BPIW Virtual Expo Tampilkan Peran Nyata Generasi Muda

 

Rangkaian Talk Series ke-3 atau yang terakhir dalam rangkaian BPIW Virtual Expo 2020 menampilkan para generasi millennial dari Kementerian PUPR dan juga Demand Planning and Marketing Strategy Grab Indonesia, Rizky Ardian Hidayat, pada Jumat, 20 November 2020.  Generasi muda Kementerian PUPR tersebut yakni Arif Dhiaksa dari Ditjen Sumber Daya Air, Wahyu Supriyo Winurseto dari Ditjen Bina Marga, Eki Arsita Rizki dari Ditjen Cipta Karya, Denik Haryani dari Ditjen Pembiayaan Infrastruktur PU dan Perumahan, serta Rendy Setiawan dari Ditjen Perumahan. Sementara BPIW menampilkan dua orang generasi mudanya yakni Aji Noor Muhammad dan Akhyar Farizal.   Masing-masing pembicara berbagi pengalaman, inovasi, dan gagasan-gagasannya. 

 

Talk Series ke-3 yang ditayangkan di youtube ini juga menarik perhatian masyarakat. Pasalnya 286 orang mengikuti melalui aplikasi zoom meeting. Saat menutup rangkaian  Talk Series, Kepala BPIW Hadi Sucahyono yang diwakili Sekretaris BPIW Iwan Nurwanto mengapresiasi sambutan masyarakat yang mengikuti Talk Series tersebut. Data dari tim panitia juga menunjukkan pengunjung web Virtual Expo  sampai Selasa, 24 November mencapai  159.071 orang.

Iwan berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kerja sama dan koordinasi dalam perencanaan pembangunan infrastruktur dan pengembangan wilayah, baik internal PUPR maupun kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah, asosiasi, dan institusi pendidikan. 

 

Talk Series yang dimoderatori Dazen Virilla ini diawali pemaparan dari Arif Dhiaksa dari Ditjen Sumber Daya Air. Ia berbagi pengalamannya bekerja di Balai Teknik Rawa, di mana ia dan timnya harus melakukan kajian pengolahan air rawa di Desa Jangkit Timur, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Dari pengalamannya itu ia dapat belajar dari cara hidup masyarakat dengan keterbatasan yang ada. Ia pun berhasil berinovasi dengan membuat Pemanfaatan Smartphone sebagai Alternatif Pengganti Automatic Water Level Recorder (AWLR).  Alat Perekam Level Air Otomatis melalui Smartphone ini berbuah Penghargaan Teknologi Tepat Guna  Kab. Barito Kuala dan mengikuti Seminar Internasional Hathi 2019 di Kupang NTT. 

 

Sementara Wahyu S. Winurseto Dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jateng-DIY Ditjen Bina Marga dalam paparannya mengambil tema Dukungan Millenial dalam Pembangunan Infrastruktur dan Penyelenggaraan Jalan Bagi Masyarakat. Beberapa kegiatan yang telah dilakukannya seperti mengawal program Padat Karya berupa Revitalisasi Drainase yang bertujuan untuk Pemulihan Ekonomi Nasional akibat dari Pandemi Covid 19. “Di musim pandemi ini Ditjen Bina Marga merekrut semua bidang lewat padat karya, memberi sertifikasi gratis, sehingga bila selesai pandemi ini, mereka dapat bekerja di tempat lain,” ucapnya.  Selain itu, menurutnya generasi muda juga berperan pada pembangunan jalan tol. Bahkan generasi muda Kementerian PUPR turut berperan membuat underpass terpanjang di Indonesia yakni yang berada di Kulon Progo dan mendapatkan rekor MURI.

 

Pemapar lainnya yakni Eki Arsita Rizki dari Direktorat Jenderal Cipta Karya mengamblil tema “The Injury Time Specialist”. Pembangunan infrastruktur menurutnya perlu dilakukan secara cepat dan tepat, meski di menit-menit terakhir atau injury time.  Eki  pun turut andil dalam beberapa pembangunan infrastruktur seperti penyiapan Venue Layar Jetski Asian Games 2018 dan Penyiapan Venue World Cup U-20 pada 2021. Menurutnya penanganan projectInjury Time”ini memerlukan perhatian lebih terhadap “Construction Risk Management” atau Manajemen Risiko Konstruksi.  

 

Pembicara selanjutnya, Denik Haryani dari Ditjen Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan mengambil tema “Sharing Session:Creative Thinking for Creative Financing”. Ia menyoroti mengenai gap belanja pembiayaan infrastruktur, dimana APBN hanya bisa menyediakan 30 persen. Untuk itu, 70 persen pembiayaan pembangunan infrastruktur melalui alternatif pembiayaan berupa Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).  

 

Bagikan / Cetak:

Berita Terkait: