BPIW Bahas Penyepakatan Major Project ICP di Kabupaten Morowali

FGD ICP Kabupaten Morowali


Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penyepakatan Major Project Integrated City Planning (ICP) Kabupaten Morowali di Gedung BPIW, Jakarta, Rabu 12 November 2025. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Pusat Pengembangan Infrastruktur PU Wilayah III beserta jajarannya, Bupati Morowali, Kepala Bappelitbangda, perwakilan Dinas PUPR Morowali beserta jajarannya.
Kepala Pusat Pengembangan Infrastruktur PU Wilayah III, Pranoto, membuka rapat dengan menekankan pentingnya perencanaan kawasan yang mendukung kegiatan industri dan konektivitas wilayah. “Morowali menjadi salah satu lokasi prioritas karena potensi kawasan industrinya yang besar. Tantangan kita adalah menata kembali kawasan agar terintegrasi, mendukung hilirisasi industri, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Team Leader Pekerjaan ICP Morowali, Deliana, menyampaikan bahwa penyepakatan Major Project akan menjadi dasar penyusunan Pre-Feasibility study (pre-FS) untuk mendetailkan rencana pengembangan dua Selected Area. “Penyusunan rencana ini tidak hanya menata ruang, tetapi juga mengintegrasikan fungsi sosial, ekonomi, dan tata kota agar berkelanjutan,” ungkapnya.
FGD ini bertujuan untuk menyepakati dua lokasi Major Project pada dua Selected Area ICP Morowali, yaitu Kompleks Kawasan Perkantoran Fonuasingko, Desa Bente, Kecamatan Bungku Tengah, dan Kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM), Desa Bahomohoni, Kecamatan Bungku Tengah. Kawasan ini kedepannya akan dikembangkan sejalan dengan tujuan National Urban Development Project (NUDP).
Bupati Morowali menyambut positif konsep yang dikembangkan dan menekankan pentingnya sinkronisasi dengan rencana daerah. “Pada prinsipnya kami mendukung dan mengizinkan pembangunan, namun harus memperhatikan dampak sosial dan lingkungan serta pembiayaan harus realistis dan terukur,” tegasnya.
Kegiatan ICP in Sulawesi, Maluku and Papua ini ditargetkan selesai pada Desember mendatang. Diharapkan dokumen yang dihasilkan dapat menjadi acuan dalam pengembangan perkotaan di Morowali dan sekitarnya, khususnya dalam meningkatkan aksesibilitas menuju kawasan industri, penataan kawasan perkotaan, serta penguatan karakter lokal sebagai wujud pembangunan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.(Tasya/Tiara)





