Percepatan Infrastruktur dan Transportasi Pariwisata Bali Jadi Fokus Rapat Kerja Komisi V DPR RI
Upaya percepatan dan sinergi pembangunan program prioritas sarana dan prasarana infrastruktur serta
transportasi pariwisata di Provinsi Bali menjadi fokus pembahasan dalam rapat kerja Komisi V DPR RI
di Jakarta, 8 April 2026. Rapat ini melibatkan Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum,
dan Pemerintah Provinsi Bali.
Rapat ini membahas langkah strategis untuk memperkuat konektivitas, meningkatkan kualitas layanan
publik, serta mendukung sektor pariwisata yang berdaya saing dan berkelanjutan. Pertemuan ini juga
bertujuan menyelaraskan program lintas sektor agar pembangunan Bali tidak dilakukan secara parsial,
melainkan terintegrasi dalam satu sistem wilayah. Rapat ini dihadiri oleh Menteri Perhubungan
beserta jajaran, Menteri Pekerjaan Umum beserta jajaran, Gubernur Bali beserta jajaran, serta
Anggota dan Pimpinan Komisi V DPR RI.
Gubernur Bali, Wayan Koster, dalam paparannya menegaskan bahwa sektor pariwisata memiliki urgensi
tinggi bagi perekonomian daerah maupun nasional. Pada tahun 2025, jumlah wisatawan mancanegara
tercatat mencapai 7,05 juta orang, dan wisatawan domestik 9,2 juta orang. Kontribusi Bali terhadap
devisa pariwisata nasional bahkan mencapai 55%, dan sektor pariwisata ini berkontribusi 66% terhadap
pertumbuhan perekonomian Bali.
Namun demikian, Gubernur juga menyoroti berbagai masalah dan tantangan serius, seperti alih fungsi
lahan sawah, persoalan sampah, kerusakan ekosistem, keterbatasan air bersih, hingga kemacetan dan
keterbatasan infrastruktur. “Ada beberapa permasahan yang tidak bisa kami atasi terutama yang
berkaitan dengan infrastruktur yang memerlukan dana cukup besar.” ujarnya. Selain itu beliau
menambahkan bahwa masalah kemacetan juga semakin tinggi di wilayah Badung, Denpasar, Gianyar, dan
Tabanan sebagai lokasi objek wisata utama. Selain itu, dukungan pembangunan infrastruktur laut
seperti pebangunan pelabuhan angkutan logistik sangat diperlukan mengingat adanya lonjakan wisatawan
yang menggunakan jalur laut sebagai dampak jalan tol Trans Jawa yang sudah mendekat ke Banyuwangi
sebagai penghubung jalur laut Pualu Jawa dan Bali.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti, dalam paparannya menegaskan bahwa Bali bukan
sekadar destinasi wisata, melainkan simbol mobilitas yang harus tetap tangguh terhadap tekanan
lingkungan. Oleh karena itu, pembangunan infratsruktur di Bali tidak dapat dilakukan secara
sektoral, melainkan harus terintegrasi dalam sistem yang mencakup konektivitas wilayah, sanitasi
lingkungan, serta dukungan terhadap produktivitas pangan.
Untuk tahun 2026, Kementerian PU telah merencanakan 206 paket pembangunan di Bali dengan nilai total
sekitar Rp1,2 triliun. Program tersebut mencakup penanganan abrasi pantai, pembangunan Jalan Tol
Gilimanuk–Mengwi, pengelolaan sampah di kawasan Sarbagita, serta penguatan irigasi guna mendukung
swasembada pangan. “Penangan sampah di Bali sekarang didorong dari dua arah sekaligus, sistem
hulunya diperkuat, sistem hilirnya dimodernisasi dan ini penting karena Bali tidak cukup hanya
dibersihkan, Bali harus memiliki sistem pengelolaan sampah yang benar-benar bekerja,” tegas Wakil
Menteri ketika membahas masalah persampahan.
Sementara itu, Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, memaparkan rencana pengembangan sistem
transportasi terintegrasi di Bali, salah satunya melalui moda water taxi yang tengah disiapkan oleh
PT ASDP Indonesia Ferry. Proyek ini direncanakan memasuki tahap konstruksi pada Agustus 2026 hingga
Juli 2027, sebagai alternatif transportasi yang menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan
kawasan Canggu. Dengan waktu tempuh sekitar 30 menit, moda ini diharapkan menjadi solusi atas
kemacetan yang saat ini mencapai 1,5 jam melalui jalur darat. Selain itu, pengembangan fasilitas
Pelabuhan Celukan Bawang di Bali Utara juga menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas dan
distribusi logistik.
Rapat menyepakati sejumlah poin penting, di antaranya Komisi V DPR RI mendukung percepatan
pembangunan dan sinergi program infrastruktur serta transportasi di Bali. Pemerintah Provinsi Bali
diminta menyelesaikan kepastian lahan dan administrasi terkait objek pembangunan infrastruktur yang
akan dilaksanakan. Kementerian PU dan Kementerian Perhubungan juga diminta mengakomodir berbagai
usulan daerah, termasuk kepastian pembangunan Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi, penanganan banjir dan
abrasi pantai, penyediaan air bersih, pembangunan pelabuhan angkutan logistik, pengelolaan sampah
berkelanjutan, serta penguatan jaringan irigasi untuk ketahanan pangan. Selain itu, kedua
kementerian diminta berkoordinasi dengan Bappenas dan Kementerian Keuangan untuk memastikan dukungan
perencanaan dan pembiayaan.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, yang hadir menyusul karena baru usai menghadiri rapat di
Istana, menutup rapat dan menyampaikan bahwa berbagai masukan dari Pemerintah Provinsi Bali akan
menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan ke depan. (MBA/Tiara)