Kementerian PU Matangkan Pelaksanaan Sustainable and Quality Tourism Development Program (SQDTP) 2027

Rapat Pembahasan SQDTP Kementerian PU


Kementerian Pekerjaan Umum melalui Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah gelar rapat lanjutan mendukung program Sustainable and Quality Tourism Development Program (SQDTP) pada Senin 23 Februari 2026 di Jakarta. Rapat ini merupakan lanjutan dari pembahasan Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri/DRPPLN (Green Book) SQDTP yang digelar Bappenas 10 Februari lalu. Rapat ini ditujukan untuk membahas rencana pelaksanaan SQDTP di Kementerian Pekerjaan Umum. SQDTP merupakan program pengembangan pariwisata berkelanjutan dan berkualitas yang direncanakan 2027. Program ini dikoordinasikan oleh Kementerian Pariwisata sebagai executing agency, dengan dukungan Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Pekerjaan Umum, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM sebagai implementing agencies.
Kepala Pusat Pengembangan Infrastruktur Wilayah Nasional, Zevi Azzaino, menyampaikan bahwa Cakupan lokasi program meliputi 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) dengan pengembangan Key Tourism Area (KTA), yaitu: Danau Toba, Borobudur–Yogyakarta–Prambanan, Lombok–Gili Tramena, Labuan Bajo, Manado–Likupang, Raja Ampat, Bromo–Tengger–Semeru, Bangka Belitung, Wakatobi, dan Morotai. Selain itu terdapat 3 Destinasi Pariwisata Regeneratif (DPR): Bali, DKI Jakarta, dan Kepulauan Riau.
“Kementerian PU mendapat tugas dalam bidang infrastruktur dan layanan pendukung pariwisata, seperti aksesibilitas jalan dan jembatan, penataan kawasan dan infrastruktur dasar (air minum, sanitasi, dan persampahan)” Ujar Zevi.
Hadir dalam rapat ini perwakilan dari Biro Perencanaan, Ditjen Cipta Karya, Ditjen Sumber Daya Air, dan Ditjen Prasarana Strategis. Rizki R. Oktora dari Biro Perencanaan dan Kerja sama Luar Negeri (PKLN) mengungkapkan bahwa Biro PKLN dalam hal ini sebagai PIC sebagai perwakilan implementing agency dari Kementerian PU. Ia juga menambahkan bahwa apabila green book terbit di april 2026 ini maka di trimester 2 maka akan menjadi dasar penganggaran pada trimester 2 tahun ini.
Sementara Dewi Artrishanty dari Ditjen SDA mengatakan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi dukungan infrastruktur SDA di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional di tahun 2027-2029. “Beberapa lokus yang sudah kami identifikasi adalah di Provinsi Sumatera Utara, Jawa tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, Papua Barat Daya, Kepulauan Bangka-Belitung, Maluku Utara, Bali, DK Jakarta, dan Kepulauan Riau. Kegiatan yang diusulkan antara lain berupa pengendalian daya rusak air, pembangunan bendungan, normalisasi sungai, dan erosi. Namun hal ini masih menunggu arahan selanjutnya dari Dirjen SDA” Terangnya.
Moh Hasbi Assiddiqi, Kepala Subdirektorat Kemitraan dan Pengadaan Lahan Ditjen Prasarana Strategis (PS) menambahkan bahwa dukungan yang mungkin sesuai dengan tugas dan fungsi Ditjen PS adalah berupa sarana dan prasarana pendidikan vokasi (Politeknik Pariwisata). “Kami juga sudah mulai mengidentifikasi kebutuhan sektor PS, namun perlu kita dudukkan apakah inline dengan Perpres dan ITMP-nya sehingga masih perlu pembahasan lebih lanjut” Ujarnya.
Pandu Gunadi Atmosukarto, Direktur Sistem dan Strategi Penyelenggaraan Infrastruktur Cipta Karya menambahkan bahwa lesson learned pelaksanaan ITDP sebelumnya menjadi pembelajaran berharga untuk kita di Kementerian PU. “Apa yang kita bangun ini akan indah karena ini ada di kawasan pariwisata, tapi jika tidak ada perencanaan bagaimana pengelolaan ke depannya, akan menjadi PR buat kita semua. Maka perlu jelas dari hulu sampai hilirnya” Terangnya. (MBA/Tiara)





