Ketua Sekretariat Central Project Management Unit (CPMU) National Urban Development Project (NUDP) Airlangga Mardjono secara resmi menyerahkan dokumen Hasil Pra-Studi Kelayakan (Pre-Feasibility Study/FS) dan Desain Dasar (Basic Design) Integrated City Planning (ICP) in Java kepada Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono. Kegiatan yang didahului dengan Forum Group Discussion (FGD) ini dilaksanakan di Pendopo Si Panji di Purwokerto, ibu kota Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada 19 Desember 2025.
ICP in Java merupakan bagian dari program NUDP yang dirancang untuk mendorong transformasi perkotaan menuju kota masa depan yang berdaya saing dan inklusif. Kegiatan ICP in Java di Purwokerto dilaksanakan selama delapan bulan, mulai dari perencanaan hingga penyusunan dokumen rencana pembangunan jangka panjang tersebut. Dalam implementasinya, ICP in Java di Purwokerto mengusung tiga tematik utama, yaitu Kota Pendidikan, Kota Wisata, serta Kawasan Bisnis dan Pemerintahan.
“Kami berharap, dokumen ICP in Java di Purwokerto, Banyumas, dapat dimanfaatkan bersama secara optimal sebagai acuan pembangunan dan investasi ke depan, serta menjadi fondasi bagi terwujudnya kota yang maju, berdaya saing, dan sejahtera,” kata Airlangga yang menjabat sebagai Kepala Pusat Pengembangan Infrastruktur Pekerjaan Umum Wilayah II. Dengan dukungan perencanaan yang terintegrasi dan kepastian investasi, ia meyakini potensi besar Purwokerto sebagai simbol pertumbuhan ekonomi baru di Jawa.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengapresiasi pelaksanaan kegiatan oleh Tim ICP in Java di Purwokerto yang penuh dedikasi, kolaborasi, dan kedalaman analisis. “Sehingga pada hari ini, kita sampai pada tahapan penting yakni serah terima dokumen hasil ICP in Java bersamaan dengan penetapan Purwokerto sebagai salah satu dari 10 kota prioritas nasional dan satu-satunya lokasi percontohan di Pulau Jawa,” kata Sadewo. “Tentunya, ini merupakan sebuah kehormatan sekaligus amanah besar bagi Kabupaten Banyumas.”
Dalam pandangan Sadewo, ICP bukan sekadar dokumen perencanaan. Lebih dari itu, ICP adalah kerangka besar pembangunan kota yang terintegrasi, yang menyatukan tata ruang, infrastruktur, konektivitas, pelestarian lingkungan dan budaya, hingga penguatan iklim investasi. Dokumen Hasil Pra-Studi Kelayakan dan Desain Dasar ICP in Java, dikatakan Sadewo, menjadi rujukan strategis bagi pemerintah Kabupaten Banyumas dalam memperkuat perencanaan pembangunan jangka panjang daerah.
“Dokumen ini akan kami selaraskan dengan berbagai instrumen perencanaan daerah, termasuk RDTR [Rencana Detail Tata Ruang] kawasan perkotaan Purwokerto dan integrasinya ke dalam RPJMD [Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah] Kabupaten Banyumas,” kata Sadewo seraya mengajak segenap pemanku kepentingan untuk bersama-sama mengawal dan mewujudkan hasil perencanaan ini jadi pembangunan nyata yang berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat Banyumas.
“Kami menyadari, keberhasilan pembangunan tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Tantangan pembangunan perkotaan yang semakin kompleks tentu saja membutuhkan sinergi lintas sektor,” kata Sadewo. “Kolaborasi, konsistensi, dan berkelanjutan adalah kunci utama agar visi besar yang dirumuskan melalui ICP dapat terimplementasi dan memberikan manfaat jangka panjang. Ikhtiar bersama ini menjadikan langkah awal yang kuat dalam mewujudkan kawasan perkotaan Purwokerto sebagai kota yang maju, inklusif, dan berkelanjutan.”