Rakor Tingkat Menteri Tata Kelola Kebandarudaraan, Kementerian PU Siapkan Aksi Penanganan Infrastruktur Terpadu



Pemerintah terus memperkuat Tata Kelola Ekosistem Kebandarudaraan Nasional guna meningkatkan daya saing layanan transportasi udara sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan. Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Tingkat Menteri Penguatan Tata Kelola Ekosistem Kebandarudaraan yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), di Kantor Kemenko IPK, Jakarta, Kamis (25/6).
Rapat dihadiri oleh Kementerian dan Lembaga (K/L) serta Pemerintah Daerah terkait untuk menyusun langkah terpadu dalam penguatan tata kelola kebandarudaraan, khususnya mendukung transformasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta sebagai gerbang utama Indonesia menuju target menjadi 10 bandara terbaik di dunia pada 2029, sekaligus meningkatkan kualitas layanan bandar udara nasional.
Dalam arahannya, AHY menekankan bahwa keberhasilan pengembangan ekosistem kebandarudaraan tidak hanya ditentukan oleh pengelolaan bandara, tetapi juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat.
"Penguatan tata kelola ekosistem kebandarudaraan harus dilakukan melalui kolaborasi yang lebih solid antarpemangku kepentingan. Kita ingin menghadirkan layanan bandar udara yang semakin berkualitas, meningkatkan daya saing nasional, sekaligus memperkuat konektivitas sebagai pengungkit pertumbuhan dan pemerataan ekonomi," ujar AHY.
AHY juga menegaskan perlunya percepatan penyusunan landasan hukum, transformasi digital, serta rencana aksi bersama sebagai dasar penguatan tata kelola kebandarudaraan nasional. Salah satu target yang ingin dicapai adalah menjadikan Bandara Soekarno-Hatta masuk dalam jajaran 10 bandara terbaik dunia dengan standar pelayanan bintang lima.
Pada sesi paparan mewakili Menteri Pekerjaan Umum (PU), Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW), Adenan Rasyid menyampaikan dukungan terhadap penguatan ekosistem kebandarudaraan melalui penyediaan infrastruktur yang terintegrasi, baik dari aspek konektivitas maupun pengendalian banjir di kawasan Bandara Soekarno-Hatta.
Berdasarkan hasil identifikasi lapangan, Kementerian PU telah memetakan titik prioritas pengendalian banjir pada akses Tol Sedyatmo KM 31 menuju Bandara Soekarno-Hatta. Penanganan hulu dilakukan secara terpadu melalui normalisasi Anak Kali Dadap/Perancis dengan panjang 450 meter dan lebar 2,5 meter. Untuk penanganan hilir, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane melakukan normalisasi sepanjang 660 meter dan lebar 2,5 meter. Selain itu, Kementerian PU juga mendukung pembangunan Pengaman Pantai Pesisir Teluk Jakarta Tahap 7 Paket 3 di kawasan Kali Dadap/Perancis yang saat ini dalam proses lelang dan ditargetkan mulai berjalan pada Juli 2026.
Selain penanganan banjir, Kementerian PU bersama BPJT dan PT Jasa Marga juga menyiapkan langkah mitigasi kemacetan di akses menuju bandara melalui peningkatan kapasitas crossing Jalan Tol Prof. Dr. Sedyatmo, penambahan box culvert, optimalisasi sistem rumah pompa, serta penyempurnaan drainase jalan. Beberapa pekerjaan yang telah dilaksanakan meliputi peninggian tanggul rumah pompa, penambahan unit pompa, pembangunan rumah pompa di kawasan Taman Tol Sedyatmo dan Outlet Anak Kali Prancis, serta pemasangan backflow valve pada setiap inlet drain tanggul. Sementara itu, penambahan kapasitas crossing gorong-gorong berupa 3 lajur box culvert berukuran 1,5 × 1,2 meter saat ini masih dalam tahap perencanaan.
"Kementerian PU mendukung penguatan ekosistem kebandarudaraan melalui penyediaan infrastruktur yang terintegrasi, mulai dari peningkatan aksesibilitas, pengendalian banjir, hingga pengembangan kawasan berbasis bandara. Infrastruktur yang andal akan memperkuat fungsi bandara sebagai simpul konektivitas nasional sekaligus penggerak pertumbuhan wilayah," ujar Adenan.
Lebih lanjut, Kementerian PU memandang bandara sebagai simpul strategis dalam sistem perkotaan nasional yang harus terintegrasi dengan jaringan jalan, kawasan industri, logistik, pariwisata, dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Pendekatan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Renstra Kementerian PU 2025–2029 yang mendorong pengembangan kawasan berbasis bandara (airport-oriented development) melalui penyediaan infrastruktur dasar, penguatan konektivitas, serta sinergi lintas sektor dan lintas wilayah.
Melalui sinergi antar kementerian, pemerintah berharap tata kelola ekosistem kebandarudaraan nasional semakin kuat sehingga mampu meningkatkan kualitas pelayanan, memperlancar konektivitas nasional, memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Turut hadir dalam rapat Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, dan delegasi K/L terkait dari Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan, Kementerian ATR BPN, Sekretariat Negara, BUMN, Pemerintah Kota dan Kabupaten Tangerang serta PT. Angkasa Pura. (Zim/Tiara)





