Kementerian PU dan World Bank Bahas Kesiapan Implementasi Sustainable and Quality Tourism Development Program (SQTDP)



Kementerian Pekerjaan Umum melalui Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) menggelar Rapat Persiapan Pre-Appraisal Mission Sustainable and Quality Tourism Development Program (SQTDP) pada Selasa, 2 Juni 2026 di Jakarta. Rapat ini bertujuan untuk membahas kesiapan pelaksanaan program SQTDP sekaligus memperkuat koordinasi antar pemangku kepentingan dalam mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan dan berkualitas di Indonesia.
Dalam rapat tersebut, Task Team Leader sekaligus Senior Economist, Alejandro Espinosa-Wang, menegaskan pentingnya peran Kementerian PU dalam keberlangsungan pelaksanaan SQTDP. Menurutnya, terdapat keterkaitan yang kuat antara proyek-proyek sebelumnya dengan program yang akan dilaksanakan sehingga diperlukan dukungan berkelanjutan dari Kementerian PU.
“Kami memerlukan peran besar Kementerian PU dalam keberlangsungan proyek ini karena terdapat keterkaitan antara proyek sebelumnya dengan proyek saat ini, dan harapannya dapat terus berlanjut di masa mendatang,” ujarnya.
Alejandro menjelaskan bahwa terdapat tiga prinsip utama dalam pelaksanaan SQTDP, yaitu concentrate, yakni fokus pada sejumlah destinasi terpilih dengan investasi dan dampak yang lebih besar; demand-driven, yaitu berbasis kebutuhan yang diidentifikasi baik dari sektor publik maupun swasta; serta implement existing plans, yakni mengimplementasikan rencana yang telah disusun dalam Integrated Tourism Master Plan (ITMP). Ia juga menekankan pentingnya fokus pada pembangunan infrastruktur yang mampu memberikan dampak signifikan terhadap sektor pariwisata dan penciptaan lapangan kerja. Selain itu, saat ini tengah diupayakan penyediaan preparation project grant sebesar USD 1,7 juta untuk mendukung persiapan program.
Sementara itu, Kepala BPIW, Adenan Rasyid, menyampaikan bahwa pengembangan kawasan harus dilakukan secara terpadu dan terintegrasi agar memberikan manfaat yang optimal. Menurutnya, jumlah subproyek yang lebih sedikit namun memiliki dampak besar akan lebih efektif dibandingkan banyak proyek dengan dampak yang terbatas.
“Yang terpenting adalah bagaimana kegiatan dapat saling terpadu dan terintegrasi untuk pengembangan kawasan. Lebih baik jumlah subproyek sedikit tetapi berdampak besar daripada jumlah banyak tetapi kurang berdampak,” ujar Adenan.
Ia juga menegaskan bahwa Kementerian PU akan mendukung penuh pelaksanaan pinjaman (loan) SQTDP. Untuk memastikan efektivitas pelaksanaan program, Adenan mengusulkan penggunaan sistem penilaian atau scoring dalam menentukan prioritas subproyek yang akan dilaksanakan. Selain itu, ia mendorong agar pembahasan terkait National Urban Transformation Program (NUTP) turut dipercepat serta perlunya mencari alternatif pembiayaan di tengah keterbatasan anggaran yang ada.
Senior Private Sector Specialist, Aufa Doarest, menambahkan bahwa pada tahun 2025 telah dilaksanakan workshop nasional terkait Integrated Tourism Development Program (ITDP) yang dihadiri oleh para menteri terkait sebagai bagian dari upaya penguatan koordinasi dan sinkronisasi program pengembangan pariwisata.
Pada kesempatan yang sama, Co-Task Team Leader sekaligus Senior Urban Development Specialist, Evi Hermirasari, menyampaikan bahwa kegiatan pre-appraisal direncanakan berlangsung pada 4–5 Juni 2026. Ia berharap perwakilan Kementerian PU dapat hadir secara langsung dalam kegiatan tersebut.
Terkait National Urban Transformation Program (NUTP), Evi menjelaskan bahwa pertemuan lanjutan antara perwakilan World Bank dan BPIW akan segera dilaksanakan. Ia menyampaikan bahwa terdapat dukungan yang kuat terhadap program tersebut, sekaligus kebutuhan untuk mulai mengidentifikasi daftar proyek yang akan diusulkan dalam Green Book sebagai bagian dari persiapan program ke depan. (Tasya/Zim)





